Presiden Jokowi sampaikan 3 pendirian pada KTT Perubahan Kondisi

presiden-jokowi-sampaikan-3-pandangan-pada-ktt-perubahan-iklim-1

Bonus harian di Keluaran SDY 2020 – 2021.

Jakarta (ANTARA) – Presiden Joko Widodo mengikuti Konferensi Tingkat Luhur (KTT) Perubahan Iklim ataupun Leaders Summit on Climate secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Kamis, dalam pidatonya menyampaikan tiga pemikiran terkait secara isu perubahan iklim.

Presiden Jokowi menegaskan kalau Indonesia sangat serius dalam pengendalian perubahan iklim serta mengajak dunia untuk melangsungkan aksi-aksi nyata.

Sebagai negara kepulauan terbesar dan pemilik hutan katulistiwa, penanganan perubahan iklim ialah kepentingan nasional Indonesia.

Melalui kebijakan, pemberdayaan, dan penegakkan hukum, cepat deforestasi Indonesia saat itu turun terendah dalam 20 tahun terakhir.

“Penghentian konversi hutan alam dan lahan gambut mencapai 66 juta hektare, bertambah luas dari gabungan merata Inggris dan Norwegia. Penurunan kebakaran hutan hingga sejumlah 82 persen di saat beberapa kawasan di Amerika, Australia, dan Eropa menjalani peningkatan terluas, ” perkataan Presiden Jokowi.
Baca juga: Peran masyarakat adat perlu diperkuat kendalikan perubahan iklim

Presiden Jokowi  mengajak para majikan untuk memajukan pembangunan hijau untuk dunia yang bertambah baik. Menurut Presiden, Indonesia telah memutakhirkan kontribusi dengan ditentukan secara nasional (“nationally determined contributions/NDC”) untuk meningkatkan kapasitas adaptasi dan ketahanan iklim.

Indonesia juga menyambut baik penyelenggaraan Konvensi Kerangka Perubahan Iklim ke-26 di Inggris untuk hasil yang implementatif dan seimbang.

Nusantara juga menyambut baik tumpuan sejumlah negara menuju “net zero emission” tahun 2050. Namun, agar kredibel, kontrak tersebut harus dijalankan bersandarkan pemenuhan komitmen NDC tarikh 2030.

“Negara berkembang akan melakukan intensi serupa jika komitmen negara maju kredibel disertai sokongan riil. Dukungan dan pemenuhan komitmen negara-negara maju benar diperlukan, ” imbuhnya.

Untuk mencapai bahan Persetujuan Paris dan jadwal bersama berikutnya, Presiden Jokowi memandang bahwa kemitraan ijmal harus diperkuat. Kesepahaman dan strategi perlu dibangun dalam mencapai “net zero emission” dan menuju UNFCCC COP-26 Glasgow. Indonesia sendiri medium mempercepat pilot percontohan “net zero emission” antara lain dengan membangun Indonesia Green Industrial Park seluas 12. 500 hektare di Kalimantan Utara yang akan menjadi yang terbesar di dunia.
Mengucapkan juga: 8 perilaku menjaga lingkungan dari perubahan kondisi

“Kami sedang melakukan rehabilitasi hutan mangrove seluas 620 ribu hektare sampai 2024, terluas di dunia dengan daya serap karbon mencapai empat kali lipat dibanding hutan tropis. Indonesia terkuak bagi investasi dan transfer teknologi, termasuk investasi buat transisi energi, ” jelasnya.

Selain itu, peluang besar juga terkuak bagi pengembangan bahan mengobarkan nabati, industri baterai litium, dan kendaraan listrik. Presiden Jokowi menegaskan bahwa presidensi Indonesia untuk G20 dalam tahun 2022 akan memprioritaskan penguatan kerja sama transformasi iklim dan pembangunan berkelanjutan.

“Indonesia serupa terus mendukung upaya para sahabat kami di negeri Pasifik. Kita harus tetap melakukan aksi bersama, kemitraan global yang nyata, serta bukan saling menyalahkan, makin menerapkan hambatan perdagangan dengan berdalih isu lingkungan, ” tandasnya.

KTT Leaders Summit on Climate ini dibuka secara formal oleh Presiden Amerika Konsorsium Joe Biden dan Pemangku Presiden Amerika Serikat Kamala Harris. Konferensi ini diikuti oleh 41 kepala negara/kepala pemerintahan/ketua organisasi internasional.

Turut mendampingi Presiden secara langsung dalam KTT tersebut yaitu Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Pengantara Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar. Sementara, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan & Menteri Lingkungan Hidup & Kehutanan Siti Nurbaya mendampingi secara virtual.
Baca juga: Kotor bisa diolah jadi material dan energi baru bawa mitigasi iklim

Pewarta: Hanni Sofia
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2021